Kamis, Januari 01, 2015

Maksiat Penghalang Kemenangan



Maksiat Penghalang Kemenangan
Maksiat adalah dosa yang dilakukan oleh manusia, baik dosa kecil maupun dosa besar. Menganggap enteng perkara-perkara subhat, menganggap sepele dosa-dosa kecil, sombong dan takabur, dengki, iri dan hasad, terbiasa lalai dengan amanah dan terbiasa dengan tidak menepati janji, serta tunduk dan ta’at pada system thoguht maka perkara ini yang membuat manusia masuk dalam lubang kemaksitan. Jika hal ini biasa dilakukan maka Allah SWT sendiri yang akan membalasnya baik dengan hukuman di dunia maupun dosa di akhirat kelak.


Maksiat adalah suatu perbuatan yang tidak mengikuti apa yang telah diperintahkan oleh Allah SWT dan tidak menjauhkan diri dari apa-apa yang telah menjadi larangan Allah SWT. Sementara, lawan dari maksiat adalah ketaatan. Salah satu konsekuensi penting dari keimanan kepada Allah SWT adalah ketaatan kepada segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya, baik dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain, dalam situasi susah maupun senang.

Setidaknya ada beberapa akibat dari dosa dan maksiat yang dilakukan oleh manusia, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat yaitu membuat hati resah dan gelisah, jauh dari kebenaran, pertentangan antar manusia, krisis berkepanjangan, penghalang kemenangan, terjadi bencana alam, dan terhalang masuk surga.

Allah SWT berfirman:
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. Ar-Ruum [30] : 41)

Imam Ali Asyaubuni dalam kitabnya Shafwatu Tafashir menyatakan bahwa makna “bima kasabat aidinnas” berarti disebabkan karena dosa dan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia.  Maksiat inilah yang menyebabkan adanya ujian, cobaan bahkan adzab dari Allah SWT sebagai pelajaran bagi manusia agar mereka kembali dan taat kepada Allah SWT.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah memberikan gambaran secara terperinci tentang akibat dari maksiat dalam kitabnya Al-Fawa’id, beliau menyatakan bahwa :

Di antara efek maksiat ialah pelakunya tidak banyak mendapatkan hidayah, pikirannya kacau, ia tidak melihat kebenaran dengan jelas, batinnya rusak, daya ingatnya lemah, waktunya hilang sia-sia, dibenci manusia, hubungannya dengan Allah SWT renggang, doanya tidak dikabulkan, hatinya keras, keberkahan dalam rezki dan umurnya musnah, diharamkan mendapatkan ilmu, dihinakan musuh, dadanya sesak, diuji dengan teman-teman jahat yang merusak hati dan menyia-nyiakan waktu, cemas berkepanjangan, sumber rezekinya seret, hatinya terguncang. Maksiat dan lalai membuat orang tidak bisa berzikir kepada Allah SWT, sebagaimana tanaman tumbuh karena air dan kebakaran terjadi karena api. Kebalikan dari semua itu muncul karena karena ketaatan”.
Begitu juga, Syekh Dr. Najib Ibrahim dalam kitabnya Risalah ila Man Ya’malu lil Islam menyatakan bahwa “maksiat itu melahirkan maksiat. Jika maksiat sering dikerjakan, maka terjadi akumulasi maksiat. Kadang-kadang pelaku maksiat melihat tubuhnya segar bugar, hartanya banyak dan tidak ada masalah dengan keluarganya. Ia mengira dirinya tidak dihukum, padahal ketidak tahuannya jika ia sedang dihukum merupakan hukuman bagi dirinya. Cukuplah baginya, sesuatu yang manis berubah menjadi pahit, lalu yang ada tinggal pahitnya penyesalan dan kesedihan”.

Kadang-kadang di antara akibat dari maksiat yang dilakukan adalah Allah SWT akan membuat ia dibenci oleh manusia dan menolak dakwahnya tanpa sebab-sebab yang jelas. Berkaitan dengan hal tersebut Abu Darda ra pernah berkata “jika seorang hamba bermaksiat kepada Allah SWT saat sendirian. Allah SWT membuatnya dibenci kaum muslimin tanpa ia sadari”.

Sejarah generasi awal telah membuktikan kepada kita, bahwa kemaksiatan lah yang menjadi penghalang kemenangan dakwah dan jihad. Dari sekian banyak peristiwa, ada dua peristiwa yang bisa kita jadikan pelajaran yaitu perang Uhud dan perang Hunain. Penyebab kekalahan perang Uhud disebabkan karena ketidakdisiplinan para sahabat dan ketidaktaatan mereka pada perintah Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan, penyebab kekalahan Hunain adalah karena kesombongan dan keangkukan para sahabat, mereka menganggap enteng pasukan musuh yang berjumlah 4000 prajurit sementara kaum muslimin 1.200 prajurit. Akhirnya Allah SWT menegur mereka denga kekalahan, tetapi setelah mendengar perintah rasulullah SAW untuk mundur maka pasukan islam pun mundur dan menyiapkan strategi perang yang baik, sehingga akhirnya Allah SWT memenangkan mereka.

Selain menjadi penghalang kemenangan, maksiat juga dapat menjadi penghalang terkabulnya do'a. Ibnu Rajab dalam kitabnya Jami'ul 'Ulum wal Hikam menyebutkan, seorang penyair berkata: "Bagaimana mungkin kita mengharap terkabulnya do'a, sedangkan jalan kita sudah tertutup dengan dosa dan maksiat."

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya Ad-Daa' wad Dawaa' menyatakan bahwa “dosa dan maksiat mempunyai pengaruh yg jelek terhadap diri manusia, termasuk juga faktor penghalang terkabulnya do'a”. 

Oleh karena itu, pengemban dakwah yang sedang berjuang untuk meraih kemenangan. Jangan coba-coba bermaksiat kepada Allah SWT meskipun dosa-dosa yang kecil, sebab maksiat dan dosa tersebut akan menghalangi kemenangan yang ada di depan mata. Anda harus menjadi pejuang yang ikhlas, istiqomah dan tawakkal dalam meraih pertolongan Allah SWT. Karena dengan itu Allah SWT akan memenangkan dasyatnya pertarungan itu. [] by; didiharyono

0 komentar: