Senin, September 08, 2014

Professor Hadis dan Masjid Al-Ikhlas

Professor Hadis adalah sosok intelektual yang mengispirasi dan memotivasi. Orang yang begitu sederhana, tak sungkan dan tak henti menunjukan sikap dan perasaannya. Setiap hal yang ia sukai, pujian tak ragu ia berikan. Pada mahasiswa yang berbakat, pada orang-orang dan hal-hal yang membuatnya kagum. Beliau selalu jujur saat mengagumi seseorang. Kalimat pujiannya sangat beragam mulai dari bahasa yang sederhana sampai bahasa yang filosofis. Beliau itu tipe orang keras, teramat keras, takala beliau mengetahui ada kebenaran yang disembunyikan, maka tidak akan berhenti diusut jika belum menemukan titik temu (solusi). Namun, dibalik itu, dirinya memiliki jiwa yang sangat lembut, penyayang dan enak diajak berkomunikasi. Tidak hanya itu, beliau yang dikenal sebagai orang yang kritis, saat mengkritik pun orang tak merasa dilukai sebab selalu diakhiri dengan canda dan humor yang membuat suasana menjadi ramai.


Bukan hanya sahabat, ia memiliki teman yang banyak. Bergaul dengan siapa saja dari berbagai kalangan, ia menjadi salah satu dosen yang disukai oleh banyak mahasiswa disaat sebagian dosen tidak manpu menjadi pendidik yang baik. Ia adalah sosok pemikir yang cukup berbeda dengan kebanyakan akademisi di Makassar. Ia begaul dengan berbagai kalangan dan tidak pernah melihat status social seseorang. Beliau punya keunikan tersendiri yang tidak pernah miliki oleh orang. Jika ia sedang marah atau membentak mahasiswa dan orang-orang disekelilingnya pasti sekejap saja beliau akan lupa bahwa dirinya baru-baru saja memarahi orang. Aneh juga rasanya tapi itulah dia, pribadi yang tak terpendam, cepat minta ma’af ketika ia merasa bersalah, dan suka sekali dengan lelocon.

Beliau adalah sosok intelektual yang sangat mencintai pekerjaannya, baik sebagai pemikir, penulis, juga sebagai seorang pendidik. Ia adalah sosok panutan atas pikiran-pikirannya, sekaligus sebagai idola di dalam kelas. Gesture tubuhnya yang dibalit dengan pakaian-pakaian yang serba sederhana tanpa ada nuansa keangkuhan, kaca matanya kadang ia kenakan kadang tidak, dengan retorika khasnya yang selalu menghujani mahasiswa dalam kelasnya, leloconnya adalah daya tarik yang sepertinya kurang dimiliki oleh dosen lain dikampusnya. Caranya menggerakan tangan, dengan mulut yang agak bengkok takala ia menyebut istilah bahasa Inggris, dengan kepala yang terkadang dimiringkannya dengan intonasi suara dan vocal yang teratur. Memanfaatkan mahasiswa sebagai sarana dramatic dan menciptakan suasana humor di saat yang tepat, ia lebih suka berdiri mendemonstrasikan anggota badannya dari pada duduk dibelakang meja. Begitulah cara ia mengajar kepada mahasiswa, tidak pernah kaku, santai tetapi sukses mentransformasikan ilmu pengetahuan takala suasananya menjadi kondisi yang disukai oleh mahasiswa.

Menjadi intelektual adalah cita-cita yang terpatri dalam dirinya sejak kecil “saya bisa mencapai semua, doktorandus, master, doctor, lalu professor. Bangga saat meraihnya tetapi kan cuma sebentar dan tidak ada yang abadi”. Sahutnya. Pencapaian intelektual tidak bisa memenuhi ruang kosong dalam dirinya. Beliau adalah sosok intelektual yang bukan hanya cerdas, ia juga sosok yang penuh semangat, memotivasi dan sederhana. Maka pantas ia mencapai puncak ketinggian intelektual seorang guru besar dengan golongan empat E. Namun, ia semakin sadar bahwa semua itu hanya sementara, ada tujuan hidup yang lebih substansial.

“Yaitu kembali seutuhnya untuk beribadah dan mencari keridhoan sang pencipta. Semua orang tanpa terkecuali punya kesempatan itu, tapi banyak yang justru berpaling” Tuturnya. Mengikuti kata hatinya, ia selalu ingin bermanfaat bagi orang lain dan merintis serta mambangun masjid yang ia beri nama masjid Al-ikhlas. Ia memberi nama al-ikhlas supaya tercermin keikhlasan bagi orang-orang yang ingin beribadah sepenuh hatiya dan juga yang memberikan sumbangan serta infak mereka untuk pembangunan masjid agar lebih bagus dan tanpak khusu’ bagi orang yang melaksanakan ibadah di dalamnya.

Meskipun ia pada awalnya tidak begitu paham dengan arti spiritual keagamaan, ia hanya mengetahui bahwa spiritual itu hanya sebatas intiusi. Sebagai intelektual di bidang pendidikan, ia mencari spiritualitas yang bisa dijelaskan secara rasional dan sains. Ia seperti dituntun mencari isi karena “gelasnya masih terasa kosong”. Ia terus berguru dan belajar kepada para ustadz dan kiyai (andre guruta) agar memndapatkan ketenangan jiwa dekat dengan dengan sang pencipta. Ia tidak membutuhkan penjelasan yang berliku-liku, tetapi hanya membutuhkan dalil dari Al-qur’an dan sunnah nabi SAW sebagai petunjuk dan pedoman hidupnya. Ketika ia mendengarkan dalil, maka diskusinya berhenti sampai di situ. “Untuk apa kita berdebat terus menerus? Jika sudah ada dalil dan argumennya, maka itu sudah menjadi refrensi” tuturnya.

Ketenangan dan keheningan tidak membutuhkan ilmu yang rumit, yang diselesaikan dengan penelitian yang panjang dan melelahkan. Ketenangan merekah dalam keberadaan diri, dengan hati yang tulus, tak berkaitan dengan keangkuhan dan kesombongan, ia hanya apa adanya yaitu kesederhaan, rileks, tanpa beban dan selalu senyum. Itupun tak mudah, sebagai intelektual yang duniannya serba serius dan kadang rumit, rileks dan tersenyum tidak mudah ia lakukan. Namun, secara perlahan, kendala itu teratasi dengan baik. Saat pikiran diam, hati memancar. Luar biasa, ruang kosong di dalam dirinya mulai terisi dengan iman dan aqidah yang lurus (hanif) agar lebih dekat dengan keridhoan tuhan-Nya. Suatu ketika, ia bangun ditengah malam untuk bermunajat kepada Allah, ia mengawalinya dengan senyuman kepada hati dalam hening yang dalam, merasakan keberlimbahan cinta dan kasih-Nya. Ia selalu meminta petunjuk kepada tuhan-Nya agar ia diberikan kesehatan dan kekuatan untuk hidup lebih bermanfaat bagi orang banyak.

Masjid yang ia wakafkan telah menjadi milik masyarakat sepenuhnya. Beliau tidak pernah menyatakan bahwa itu miliknya, tetapi semuanya adalah milik Allah. Allah hanya menitipkan kepadanya, apakah ia menjadi orang yang beriman ataukah menjadi orang yang dzalim. Di masjid ia mendapatkan ketenangan, kedamaian, jiwa begitu tentram. Seakan masalah yang menimpa, dengan terselesai dengan sendirinya karena kekuatan do’a dan iman dalam dirinya. Saat beliau duduk dalam mesjid HP nya berdering, ia melihat ada panggilan nomor baru. Ia bingun dan berkata “siapa ini yang telpon siang-siang, sementara saya mau tidur siang ini?” ia pun mengangkat “ini dari mana? Ada yang bisa saya bantu?” sahutnya. Si penelpon menjawab “saya anak bimbingan ta prof, saya mau minta tanda tangan ta”. “kalaw begitu temui saya dimasjid” sarannya dengan memberikan alamat lengkap posisi mesjid berada. Beliau adalah orang yang fleksibel, mudah ditemui dimana saja. Yang paling mudah, temui saja beliau di dalam masjid. Masjid adalah kantor keduanya, di situ ia memeriksa tugas mahasiswa, skripsi dan tesis mahasiswa.  Yang penting harus berjanji dulu sebelumnya. Tentunya dengan kata-kata yang santun dan bahasa sopan ketika menelpon atau mengirim pesan (sms) kepadanya.

Ia punya pandangan bahwa seharusnya mesjid digunakan untuk kegiatan positif yang bermanfaat bagi umat. Alangkah, kelirunya orang yang beranggapan bahwa dalam mesjid kita tidak bisa berbicara politik, ekonomi, social, pendidikan dan budaya. Mereka beranggapan bahwa masjid hanya tempat sholat saja. Pandangan seperti itu adalah kemunduran cara pandang, tidak mau melihat islam menjadi rahmat di segala bidang. Kalaw kita mencoba menengok sejarah kehidupan Rasulullah SAW di Madinah, beliau menjadikan masjid itu berfungsi banyak hal. Rasul menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat ada dimasjid, persoalan politik kenegaraan baik dalam negeri maupun luar negeri, pesoalan ekonomi ummat, pencerdasan, halaqoh, ta’lim, semua itu dilakukan dalam masjid. Jika kita mau benar-benar mencontohi rasulullah, terus atas dasar apa kemudian sebagian orang itu melarang sebagian umat islam yang sedang ta’lim di dalam mesjid? Sangat aneh bin ajaib, mengaku mengikuti ajaran Rasulullah tapi disisi lain menolak yang datang darinya.

Harus memang dimaklumi, adanya anggapan seperti itu disebabkan oleh banyak factor salah satunya adalah kurangnya pemahaman dan ilmu yang tidak mencukupi, tentang apa sebenarnya konsep politik dalam pandangan islam. Politik sebagaimana diajarkan oleh rasulullah, bahwa politik adalah mengurusi kehidupan umat dengan aturan yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Ketika itu diterapkan maka akan tercipta kedamaian dan kesejahteraan bagi umat manusia. Tetapi jika dibandingkan dengan kondisi sekarang sangat jauh dari harapan, politik telah tereduksi menjadi indikasi demoralisasi akibat semakin pudarnya dimensi moral dari perilaku politikus yang hanya memburu kekuasaan dengan menghalalkan segala cara yang menodai nalar public.

Kekuasaan menyibak aibnya dalam kegelimang kebohongan, masyarakat tahu saat menyajikan akuntabilitas public dan akuntabilitas social yang sangat berbeda antara klaim dan realitas. Tepatnya, kekuasaan untuk mengejar singgahsana kehormatan berujung pada kenistaan. Kekuasaan bisa saja menjamdi nista kala berlalu politik dinasti dan monopoli. Mengambil hak rakyatnya secara zalim, bahkan mengisab darah rakyatnya, uang rakyat yang dibayarkan melalui pajak hingga mewujud menjadi APBN lalu dikorupsi oleh penguasa baik yang ada dilegislasi dan eksekutif. Dalam ranah ini, kekuasaan itu bukan jabatan terhormat tetapi hanyalah nista.

“Keadaan politik yang carut marut ini, solusinya adalah kembali pada ajaran agama” tuturnya. Beliau melanjutkan “jika para politisi melek pada agama maka akan muncul kesadarkan yang kuat dalam dirinya untuk tidak mengkhinati rakyatnya, sebab semua yang dilakukan oleh manusia dimuka bumi ini akan diminta pertanggungan jawab”. Persoalaannya adalah hanya sebagian kecil saja para potikus yang sadar dan melek terhadap agama, yang lebih banyak itu adalah orang-orang yang tidak amanah dan hanya sekedar mencari kekuasaan saja. Kenapa semua ini terjadi? Karena kurang paham tetang keberadaan agama yang sebenarnya. Sehingga yang terjadi adalah memisahan antara persoalan agama dengan persoalan Negara, ngomong politik, tidak boleh ada unsur agama, ngomong ekonomi tidak boleh dikait-kaitkan dengan agama, ngomong budaya, pendidikan, social tidak ada urusannya dengan agama. Pemahaman seperti ini terjadi akibat pengaruh paham “sekularisme” yang telah bersemayam dalam tubuh umat islam.
 Kritikan ini sebenarnya menjadi masukkan bagi sebagaian kaum muslim yang sangat inklusif dalam memahami ajaran islam. Islam itu tidak kaku apalagi angker, tapi ia adalah penolong. Islam bukan agama yang memaksa kehendak manusia, islam bukan agama doktrin yang tidak berguna, islam bukan candu dalam kehidupan manusia, islam juga bukan agama yang mendikte dan memaksa non-muslim untuk masuk dalam islam, tetapi islam merupakan agama rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh yang ada dalam alam semesta). Islam mengajarkan kedamaian, keadilan, keindahan, kerahmatan, dan menghargai sesama manusia untuk hidup bersama sesuai dengan batas aturan yang telah ditentukan dalam agama masing-masing. Begitulah islam, ia adalah agama yang menyeluruh (konprehensif) mampu menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi oleh manusia. Semua masalah atau problem yang dialami manusia, pasti ada solusinya. Jika kita taat kepada-Nya maka kita akan mendapkan ridho dan ampunan-Nya. Ketaatan itu harus termanifestasi dalam seluruh aktifikan yang dilakukan oleh manusia yaitu menjalan kebaikan dan meninggalkan keburukan atau yang lebih dikenal dengan istilah takwa. Jabatan, gelar, pangkat, harta benda semuanya akan meninggalkan kita, tidak ada yang bisa dibanggakan, semuanya hanyalah sementara dan akan sirna saat kita meninggalkannya. Hanyalah amal ibadah yang kekal dan akan selalu bersama kita.

0 komentar: